Hope You Enjoy It

Jumat, 11 Agustus 2017

BELAJAR DARI SEORANG JENDERAL SUDIRMAN

Jenderal Besar Raden Soedirman (lahir 24 Januari 1916 – meninggal 29 Januari1950 pada umur 34 tahun) adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh pahlawan besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Kisah Soedirman menginspirasi kita, bagaimana dia mencurahkan pandangan dan sikapnya demi menegakkan Republik ini. Namun dia juga menunjukkan kebesaran jiwanya sebagai seorang prajurit dan Abdi Negara dengan mengedepankan semangat kesatuan di atas perbedaan sikap dalam perjuangannya. Sikap ini menjadikan namanya besar dan menjadi inspirasi bagi generasi-generasi setelahnya.
              Sudirman saat masih kecil diadopsi oleh pamannnya yang seorang priyayi dan pindah menuju Cilacap tahun 1916. Sudirman tumbuh menjadi seorang yang aktif dalam ekstrakulikuler termasuk aktif dalam berorganisasi.  Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi, dan dihormati oleh masyarakat karena ketaatannya pada Islam. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Saat Jepang menyerah kepada sekutu ditahun 1945, sebagai Komandan Batalion dia berhasil meyakinkan Jepang agar menyerahkan senjata secara damai kepada tentara Indonesia. Hal ini sangat membantu sebagai sumber pasokan senjata bagi Tentara Indonesia saat itu di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Mulai saat itu namanyapun mulai bersinar.
              12 November 1945 merupakan hari bersejarah bagi TKR. Pada hari itu, di Markas Tinggi TKR di Gondokusuman, Yogyakarta diadakan sebuah pertemuan yang Revolusioner. Rapat itu dihadiri oleh semua wakil tentara dan laskar. Perundingan sempat memanas, namun pada akhirnya semua yang hadir setuju untuk melakukan pemilihan pucuk pimpinan TKR sebagai salah satu agendanya. Pemilihan dilakukan secara sederhana namun demokratis. Nama-nama calon dituliskan di papan tulis dan pendukungnya diminta tunjuk tangan dan dihitung. Kalkulasi suara langsung ditulis di papan tulis. Soedirman mendapatkan dukungan terbanyak dan Oerip mendapat suara terbanyak kedua. Di hari itu Soedirman yang masih berusia 29 Tahun dan berpangkat Kolonel terpilih menjadi Panglima Besar TKR.
              Jenderal Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan dan Ia selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadi itulah karakter dari seorang Jenderal Muda yang dihormati dan disegani oleh rakyat Indonesia serta hal tsb membuat Sekutu dan Belanda ingin agar Jenderal Sudirman dibunuh agar tidak menghalangi rencana Belanda mengusai Indonesia kembali
Jenderal Sudirman, Panglima TNI yang saat itu berada dalam keadaan sakit batuk parah, dengan paru-paru tinggal saparuh, mendapat perintah dari Presiden Soekarno saat berada di Gedung Agung Yogyakarta untuk pergi ke hutan, bergerilya, mengobarkan semangat perang perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Presiden Soekarno sendiri bersama Bung Hatta tetap tinggal di IbuKota, yang saat itu Yogyakarta, untuk berjuang secara diplomasi . Jenderal Sudirman memiliki ciri khas startegi Perang “ Gerilya” yaitu masuk menembus hutan belantara dan menyerang secara tiba-tiba tanpa diketahui oleh musuh dan itulah strategi yang ditakutkan oleh Belanda karena mereka tidak terbiasa dengan medan yang seperti itu. Walaupun dalam keadaan sakit ia ditandu dan ikut perang bersama prajuritnya demi menegakkan Indonesia yang merdeka secara utuh.  Strategi berperang tingkat tinggi yang dimiliki Jendral Sudirman diterapkan tatkala harus menghindar pasukan Belanda walau saat itu dalam keadaan ditandu, harus menembus hutan belantara dengan gulap gulita, harus mendaki bukit yang terjal, terjatuh tatkala mendaki tebing yang licin, berhujan-hujanan, dan bermalam di gubuk usang di tengah hutan. Yang paling berkesan adalah ketika beliau harus menembus hutan belantara di malam hari tanpa ada cahaya sedikitpun ketika dikejar tentara Belanda yang menggunakan obor dan bersenjata lengkap, berjarak hanya belasan meter darinya. Sudirman dan pengawalnya hanya mengandalkan suara lirih mereka untuk berkoordinasi karena kondisi yang sangat gelap. Keyakinan mereka adalah semakin mereka menembus hutan gelap, semakin membuat tentara Belanda kebingungan. Hal itu terbukti dan mereka bisa terlepas dari kejaran pasukan Belanda. Kepada pasukannya, ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya.
Menjelang akhir kisahnya, Jenderal Sudirman, dibujuk oleh Letkol Suharto (selanjutnya menjadi presiden RI ke 2) untuk kembali ke Yogjakarta. Saat itu Sudirman berada di Sobo, tempat teraman yang pernah disinggahinya saat bergerilya. Sukarno Hattapun kemudian mengirim surat khusus kepada beliau agar mau kembali ke Yogyakarta. Pada awalnya beliau tidak mau, namun karena keberadaan Belanda di Indonesia sudah dikecam dunia internasional dan para pemimpin telah mendapatkan kuasa kembali untuk memimpin negeri ini, akhirnya beliau mau turun gunung.


Hikmah dari kisah tersebut adalah teruntuk diri saya sendiri adalah berjuang tiada henti dan yakin bahwa suatu saat kita akan memperoleh kemenangan. Tidak pernah mengeluh seberat apapun medannya dan sesulit apapun, serta belajar bekerjasama dengan yang lain merupakan kunci kesuksesan. Walaupun beliau sakit saja ia masih mau ikut berperang, bagaimana dengan kita yang sehat dan memiliki fasilitas yang serba ada, Tidakkah kita malu dengan perjuangan para pejuang kemerdekaan. Mari kita berjuang bersama sama demi meraih cita cita yang kita impikan.

0 komentar:

Posting Komentar